Sepasang Mata Dalam Kenangan
Pagi terlihat cerah namun
tak secerah perasaanku saat ini. Sepi kurasakan kupandangi langit yang kulihat hanyalah awan putih
bergerombol sesekali berpencar dan berjalan beriringan, kudengar kicauan burung
namun tak ada satu pun yang dapat membuat hatiku bergeming. Apakah ini semua
karena gadis itu? Gadis yang selalu ada di fikiranku, Ataukah karena cinta?
Cinta yang tumbuh diantara dia dan diriku. Cinta memang sebuah teka-teki penuh
makna, juga ekspresi jiwa yang tak mampu diartikan oleh logika. Sekarang semua
terasa hampa, andai saja aku tak pernah
bertemu dengannya, dan tidak pernah mengenal cinta, mungkin semua tidak akan
pernah terjadi.
Berawal
dari olimpiade matematika yang diadakan disekolahku, saat itu statusku masih
seorang siswa kelas XI semester 1 di sebuah sekolah SMA Negeri ternama di
Jakarta, sekolahku tidak terlalu jauh hanya 10 menit dari rumah jadi aku lebih
suka berjalan kaki.
Aku
mewakili sekolahku untuk mengikuti olimpiade tersebut, saat itulah aku pertama
kali bertemu dengannya, sorot mata yang tajam namun tersimpan kejutan dan
misteri yang seolah-olah menghipnotisku. Ia berasal dari sekolah yang letaknya
bersebelahan dengan sekolahku walau bersebelahan kami tidak pernah bertemu
karena jam pulang sekolahku dengan sekolahnya berbeda, sekolahku selalu pulang
lebih dulu dari sekolahnya.
Olimpiade
matematika antar sekolah memasuki babak final dan saat itulah kami saling
bertatapan walaupun kami bertemu sebagai rival tapi hatiku tidak pernah sebahagia
ini. Akhirnya sekolahku menjadi pemenang, dan teman-temanku memberiku selamat
terutama para sahabatku Heri, Doni, dan Gita, mereka juga selalu memberiku
semangat. Tiba saatnya pemberian hadiah. “Nino Rangga Guntara dipersilahkan untuk menerima hadiahnya…”
terdengar suara panitia yang menyebutkan namaku, segeralah aku berlari dan
menerima hadiah itu, serentak sorak sorai dan tepuk tangan dari para siswa
siswi mebuat ku bangga pada diriku sendiri, para guru pun memberiku selamat tak
terkecuali Bapak kepala sekolah, “selamat ya nak atas prestasimu untuk sekolah
ini, bapak berterima kasih sekali sama kamu.” ucap kepala sekolah seraya
mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “iya pak sama-sama” jawabku
sembari tersenyum.
Penyerahan
hadiah pun selesai, aku langsung menghampiri para sahabatku yang tengah asik
berkumpul dikantin. “ciee...... yang abis memenangkan olimpiade…” Gita
menggodaku. “hehehe…. makasih ya Git”
ucapku ramah. “ko terima kasihnya Cuma ke gita doing sih?” ” Ke kita-kita
enggak nih?” tuntut heri dan Doni seolah tak mau mengalah. “oke deeh oke… aku
sungguh berterima kasih pada kalian semua, kalian memang sahabat-sahabatku yang
terbaik…” jelasku kepada mereka. “siiip, gitu doong no… itu baru namanya adil.”
Sahut Doni. “hahaha… sebagai ungkapan rasa terima kasihku, aku akan mentraktir
kalian makan bakso Pak Mono depan sekolah, gimana?” tanyaku dengan maksud untuk
meyakinkan mereka. “umm.. boleh juga tuh!” sahut Gita “asiiik, ditraktir…”
disusul Heri dengan wajah cerianya. “kalo begitu ayo berangkat…!” ajakku kepada
mereka. Saat sedang berjalan keluar dari kantin tiba-tiba saja gadis itu
muncul, ia berjalan bersama seorang temannya dan menghampiri kami berempat.
“hey… selamat ya berhasil menjadi pemenang!” ucapnya kepadaku “i..iyaa, terima
kasih” jawabku agak malu-malu dan terlihat seperti salah tingkah. “Git, sore
nanti kamu les kan?” tanyanya kepada gita seolah mereka sudah saling mengenal.
“les dong…, aku kan ingin pintar seperti kamu dan Nino…” jawab gita sembari
melirikkan matanya kepadaku. “hahaha… bisa aja kamu Git” ucap gadis itu
malu-malu. “oh iya aku mau kenalin kamu dengan sahabat sahabatku, semuanya
kenalin ini Rhaina Anindya Kusuma, kalian boleh memanggilnya Rhaina.” “salam
kenal semuanya….” Ucap gadis itu lemah lembut. “salam kenal…” ucap kami bertiga
serentak. Dan mulailah Doni, Heri dan aku saling memperkenalkan diri
masing-masing. Saat itu lah aku baru mengetahui namanya, karena selama
olimpiade berlangsung panitia tidak menyebutkan nama-nama dari tiap peserta
melainkan nama asal sekolah saja yang disebutkan. Walaupun hanya nama saja yang
baru kuketahui hal itu membuatku semakin penasaran untuk lebih mengenalnya
tidak hanya sebatas nama. Setelah semua memperkenalkan diri, kami semua
langsung pamit pada rhaina, kami mengajaknya untuk ikut makan bakso
bersama tapi dia sedang ada urusan. “kenapa
harus ada urusan segala sih?!, padahal kalau dia ikut aku akan senang sekali,”
batinku berbisik.
“assalamualaikum…,
aku pulang!” ucapku memberi salam kepada seisi rumah. “waalaikumsalam…” seseorang menjawab walaupun
terdengar jauh. Sepertinya itu Bi Imah, Bi Imah satu satunya pembantu kami yang
masih bekerja, beliau sudah 10 tahun mengabdi dan bekerja untuk keluarga ini, Bi
Imah sangat menghormati kami, dan sebaliknya kami menghormati beliau karena
jasa jasanya selama ini, Bi Imah sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri. kami hanya tinggal berempat
hanya ada aku, adikku Lisa, mama, dan Bi Imah walaupun sebenarnya berlima tapi
karena papa jarang sekali pulang, ia selalu sibuk dengan clientnya diluar kota,
dan adikku Lisa dia masih kelas 2 SD tiap hari Lisa selalu diantar mama karena
sekolahnya lumayan jauh dari rumah, mamaku selalu punya waktu untuk lisa karena
beliau seorang ibu rumah tangga.
“tumben
mas nino baru pulang?” “iya bi, tadi abis kumpul dulu sama teman teman Nino,”
jawabku. “oh, sudah makan? bibi masak sayur capcai dan ayam goreng kesukaan Mas
Nino.” “maaf bi, Nino masih kenyang tadi habis makan bakso di depan sekolah
sama teman-teman” jelasku. “oh, yasudah kalo lapar lagi tinggal ambil saja
didapur ya mas…” Bi Imah memaklumi. “iya bi…” sahutku yang hendak pergi ke
kamar. “oh iya mama dan Lisa kemana ya bi?” tanyaku. “sehabis jemput Lisa dari sekolah
mama langsung mengajak Lisa ke mall, katanya lisa minta dibelikan sesuatu” Bi
Imah menjelaskan. “oh, yasudah kalo gitu Nino ke kamar dulu ya bi…” “iya
mas…”jawab Bibi. Aku terdiam sesaat kemudian membantingkan tubuhku ke atas
kasur, dan tiba-tiba fikiranku teralihkan oleh mata gadis itu, Rhaina yang baru
kukenal sejak 6 jam yang lalu itu kini membuatku seolah tak pernah bisa untuk
tidak memikirkannya, apakah aku terhipnotis olehnya? Ataukah cinta yang telah
menghipnotisku?
Aku
berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya, itu karena aku ingin melihat Rhaina.
Aku menunggu didekat sekolahnya dan sampai bel berbunyi ia sama sekali belum
terlihat, lalu aku memutuskan untuk pergi dan masuk kelas, kelas XI IPA 2 kelasku berada di lantai dua dekat tangga
sekolah. “tumben no jam segini baru datang?” Tanya Gita. “emm..umm anu Git, aku
telat bangun” alasanku. “bohong! Tadi
aku liat kamu menuju sekolah sebelah, dan sepperti sedang menunggu seseorang…”
selidiknya. “hehehe… ketahuan deh. Sebenarnya aku lagi nunggu Rhaina temanmu
itu.” Jelasku sambil berbisik. “hah?! Jangan jangn?! Hmm…, kamu suka ya sama
dia…? Hayoo ngaku aja deh!” “ssst, pelan
pelan dong ngomongnya ntar yang lain denger loh!” bisikku. “ups, maaf… hehehe,”
“iya enggak papa ko, oh iya Git aku boleh minta tolong enggak?” pintaku
setengah memohon. “emm, boleh pasti mau minta tolong mencomblangkan kamu sama Rhaina
kan? Hehehe…” tebak gita sembari menggodaku. “tidak usah sampai dicomblangi
Git, aku cuma mau kamu cari tau tentang dia aja.”tegasku dengan percaya diri.
“oh, oke deh…, berani bayar berapa nih?” “tenang aku traktir apapun yang kamu
mau…” “hahaha, bercanda no!” tegasnya sambil tersenyum. Gita belum lama
mengenal Rhaina karena gita mulai les bimbel bareng Rhaina semenjak kelas XI
ini. Jam pelajaran pertama dimulai, kami segera mengakhiri percakapan dan
segera duduk di bangku masing-masing, kebetulan aku duduk satu meja dengan Gita,
sebelum aku dekat dengan yang lainnya Gita lah sahabat pertamaku, kami sudah
satu kelas sejak kelas X sedangkan Doni dan Heri baru kukenal semenjak di kelas
XI ini. Gita lumayan cerdas kami saling membantu kalau menyangkut soal
pelajaran, walaupun aku dekat dengannya dan duduk satu meja aku hanya menganggap
ia hanya sebagai sahabat tidak lebih.
Selang beberapa hari Gita berhasil
mendapatkan informasi tentang Rhaina, aku pun mengikuti saran dari Gita. Bel
sekolah berbunyi tanda waktu sekolah telah usai, langit terlihat mendung
setelah itu turun hujan aku putuskan untuk berteduh di pinggir jalan di sebuah
halte yang belum jauh dari sekolah. “hai Nino…!” seseorang memanggilku seraya
menepuk pundakku dari belakang, aku pun tersentak kaget ternyata gadis itu.
“ha…hai juga, kamu sedang apa?” jawabku gugup sekaligus bertanya. “aku sedang
menunggu bus, sudah setengah jam belum ada yang lewat…” keluhnya. “oh, boleh
kutemani? Aku juga lagi nunggu hujan reda.” Tanyaku sembari melontarkan alasan
“umm.. boleh saja asal kamunya enggak keberatan, hehe..” jawabnya lembut.
Akhirnya kami berdua pun mengobrol saling menceritakan dirinya masing masing,
dan ternyata Rhaina sungguh perempuan yang menarik banyak kisah hidupnya yang
ia ceritakan padaku padahal kami baru saja bertemu dan untuk pertama kalinya
aku bisa ngobrol dengannya berdua saja. Berapa menit kemudian bus yang hendak
ditumpangi Rhaina tiba dan hujan pun berhenti, Rhaina mengajakku ikut dengannya
pulang dan aku pun menerima tawarannya itu. Perjalanan lumayan jauh, satu jam
setengah kami tiba dirumah, Rhaina mengenalkanku pada orang tua dan saudaranya.
Rhaina hanya tinggal bertiga dirumah ini bersama ayah dan adik laki lakinya
Reza, ibunya sudah lama meninggal sejak melahirkan Reza, tapi aku salut dengan Rhaina,
ia tetap semangat dan selalu tersenyum walau ia tidak lagi merasakan kasih
saying seorang ibu, terlihat dari sorot matanya yang seolah tidak pernah
memiliki masalah apapun.
Semakin
hari kami semakin dekat, aku sering mengantarnya pulang, sesekali aku mengajaknya
pergi keluar, karena Rhaina suka sekali dengan novel dan buku-buku pengetahuan
umum lainnya, aku sering mengajaknya ke toko buku atau ke perpustakaan umum
untuk sekedar membaca, hari-hari kami lalui bersama tetapi tetap saja setatus
kami masih sekedar teman walaupun Rhaina sering memberi perhatian lebih padaku,
perhatian yang tidak sewajarnya sebagai seorang teman. Akhirnya aku putuskan
untuk menyatakan perasaanku padanya besok tepat hari minggu sore, dan aku
menunggunya di perpustakaan umum tempat kami biasa menghabiskan waktu berdua.
Aku menjanjikan untuk bertemu dengannya jam 4 sore didepan perpustakaan umum. Aku
tidak sabar menanti hari esok hatiku berdebar-debar bercampur perasaan senang,
inikah perasaan seseorang apabila sedang jatuh cinta?
Tibalah
saatnya untuk segera bertemu dengannya, aku hendak bersiap-siap dan tampil
serapih mungkin agar terlihat tampan dihadapannya, aku memutuskan pergi
menggunakan motor untuk mengantisipasi kemacetan yang mungkin saja terjadi.
Setibanya disana aku belum melihat sosok gadis yang kudambakan itu, sepertinya
ia belum tiba aku putuskan untuk menunggunya di sebuah café yang bersebelahan
dengan perpustakaan, waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit
dan Rhaina belum juga dating, sudah satu jam aku menunggu. Aku coba menghubungi
dia, tetap tidak ada jawaban ada apa sebenarnya? Terbersik di fikiranku “apa
mungkin dia melupakan janjinya, dan pergi dengan orang lain” tapi aku kenal
dia, dia bukan orang yang dengan mudahnya melupakan janji. Tiba tiba saja
muncul perasaan tidak karuan, batinku menjadi resah. Triit…..triit…..triit……
terdengar suara dari phonselku bordering, ternyata Gita yang yang menelfonku.
“halo no, kamu bisa datang kerumahku sekarang?” pintanya dengan suara yang
terdengar panik. “ada apa Git?” tanyaku. “ada sesuatu yang mau aku bicarakan
sama kamu…” “apa itu Git?” selidikku penasaran. “soal Rhaina no!” “ada apa
dengan dia?” tanyaku panik. “pokoknya cepat kamu kerumahku, nanti akanku
ceritakan” jelasnya. “baiklah, aku segera kesana.” Karena khwatir aku bergegas
pergi ke rumah Gita. Gita menceritakan semuanya padaku, aku sempat shok mendengarnya.
Rhaina seorang gadis yang kucintai telah tiada, bus yang ia tumpangi mengalami
kecelakaan hebat dengan sebuah truk tangki yang melaju kencang dari arah
balakang, bus yang ditumpangi Rhaina tertabrak oleh truk itu hingga akhirnya
bus tersebut terbakar dan meledak. Kecelakaan itu terjadi pada hari sabtu dini
hari saat Rhaina hendak pulang ke rumah, ia pulang malam karena tugas sekolah
yang menumpuk, dan pada hari itu pula aku bertemu dengannya untuk membicarakan
soal pertemuan kami di perpustakaan umum, kini ku sadar kemarin adalah
pertemuan terakhirku dengannya. Jenazah Rhaina dimakamkan tadi siang, dan aku
sungguh terlambat baru mengetahui berita ini. Kini ku hanya bisa mengenang
dirinya sebagai seorang gadis
yang memiliki sepasang mata indah terpancar, walau ku tak sempat memilikimu
tapi dihati ini kan selalu tersimpan cinta untukmu.
No comments:
Post a Comment