Friday, March 23, 2012

Sepasang Mata Dalam Kenangan


Pagi terlihat cerah namun tak secerah perasaanku saat ini. Sepi kurasakan kupandangi  langit yang kulihat hanyalah awan putih bergerombol sesekali berpencar dan berjalan beriringan, kudengar kicauan burung namun tak ada satu pun yang dapat membuat hatiku bergeming. Apakah ini semua karena gadis itu? Gadis yang selalu ada di fikiranku, Ataukah karena cinta? Cinta yang tumbuh diantara dia dan diriku. Cinta memang sebuah teka-teki penuh makna, juga ekspresi jiwa yang tak mampu diartikan oleh logika. Sekarang semua terasa hampa,  andai saja aku tak pernah bertemu dengannya, dan tidak pernah mengenal cinta, mungkin semua tidak akan pernah terjadi.

 



Berawal dari olimpiade matematika yang diadakan disekolahku, saat itu statusku masih seorang siswa kelas XI semester 1 di sebuah sekolah SMA Negeri ternama di Jakarta, sekolahku tidak terlalu jauh hanya 10 menit dari rumah jadi aku lebih suka berjalan kaki.

Aku mewakili sekolahku untuk mengikuti olimpiade tersebut, saat itulah aku pertama kali bertemu dengannya, sorot mata yang tajam namun tersimpan kejutan dan misteri yang seolah-olah menghipnotisku. Ia berasal dari sekolah yang letaknya bersebelahan dengan sekolahku walau bersebelahan kami tidak pernah bertemu karena jam pulang sekolahku dengan sekolahnya berbeda, sekolahku selalu pulang lebih dulu dari sekolahnya.

Olimpiade matematika antar sekolah memasuki babak final dan saat itulah kami saling bertatapan walaupun kami bertemu sebagai rival tapi hatiku tidak pernah sebahagia ini. Akhirnya sekolahku menjadi pemenang, dan teman-temanku memberiku selamat terutama para sahabatku Heri, Doni, dan Gita, mereka juga selalu memberiku semangat. Tiba saatnya pemberian hadiah. “Nino Rangga Guntara  dipersilahkan untuk menerima hadiahnya…” terdengar suara panitia yang menyebutkan namaku, segeralah aku berlari dan menerima hadiah itu, serentak sorak sorai dan tepuk tangan dari para siswa siswi mebuat ku bangga pada diriku sendiri, para guru pun memberiku selamat tak terkecuali Bapak kepala sekolah, “selamat ya nak atas prestasimu untuk sekolah ini, bapak berterima kasih sekali sama kamu.” ucap kepala sekolah seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “iya pak sama-sama” jawabku sembari tersenyum.

Penyerahan hadiah pun selesai, aku langsung menghampiri para sahabatku yang tengah asik berkumpul dikantin. “ciee...... yang abis memenangkan olimpiade…” Gita menggodaku. “hehehe….  makasih ya Git” ucapku ramah. “ko terima kasihnya Cuma ke gita doing sih?” ” Ke kita-kita enggak nih?” tuntut heri dan Doni seolah tak mau mengalah. “oke deeh oke… aku sungguh berterima kasih pada kalian semua, kalian memang sahabat-sahabatku yang terbaik…” jelasku kepada mereka. “siiip, gitu doong no… itu baru namanya adil.” Sahut Doni. “hahaha… sebagai ungkapan rasa terima kasihku, aku akan mentraktir kalian makan bakso Pak Mono depan sekolah, gimana?” tanyaku dengan maksud untuk meyakinkan mereka. “umm.. boleh juga tuh!” sahut Gita “asiiik, ditraktir…” disusul Heri dengan wajah cerianya. “kalo begitu ayo berangkat…!” ajakku kepada mereka. Saat sedang berjalan keluar dari kantin tiba-tiba saja gadis itu muncul, ia berjalan bersama seorang temannya dan menghampiri kami berempat. “hey… selamat ya berhasil menjadi pemenang!” ucapnya kepadaku “i..iyaa, terima kasih” jawabku agak malu-malu dan terlihat seperti salah tingkah. “Git, sore nanti kamu les kan?” tanyanya kepada gita seolah mereka sudah saling mengenal. “les dong…, aku kan ingin pintar seperti kamu dan Nino…” jawab gita sembari melirikkan matanya kepadaku. “hahaha… bisa aja kamu Git” ucap gadis itu malu-malu. “oh iya aku mau kenalin kamu dengan sahabat sahabatku, semuanya kenalin ini Rhaina Anindya Kusuma, kalian boleh memanggilnya Rhaina.” “salam kenal semuanya….” Ucap gadis itu lemah lembut. “salam kenal…” ucap kami bertiga serentak. Dan mulailah Doni, Heri dan aku saling memperkenalkan diri masing-masing. Saat itu lah aku baru mengetahui namanya, karena selama olimpiade berlangsung panitia tidak menyebutkan nama-nama dari tiap peserta melainkan nama asal sekolah saja yang disebutkan. Walaupun hanya nama saja yang baru kuketahui hal itu membuatku semakin penasaran untuk lebih mengenalnya tidak hanya sebatas nama. Setelah semua memperkenalkan diri, kami semua langsung pamit pada rhaina, kami mengajaknya untuk ikut makan bakso bersama  tapi dia sedang ada urusan. “kenapa harus ada urusan segala sih?!, padahal kalau dia ikut aku akan senang sekali,” batinku berbisik.

“assalamualaikum…, aku pulang!” ucapku memberi salam kepada seisi rumah.  “waalaikumsalam…” seseorang menjawab walaupun terdengar jauh. Sepertinya itu Bi Imah, Bi Imah satu satunya pembantu kami yang masih bekerja, beliau sudah 10 tahun mengabdi dan bekerja untuk keluarga ini, Bi Imah sangat menghormati kami, dan sebaliknya kami menghormati beliau karena jasa jasanya selama ini, Bi Imah sudah ku anggap seperti  keluarga ku sendiri. kami hanya tinggal berempat hanya ada aku, adikku Lisa, mama, dan Bi Imah walaupun sebenarnya berlima tapi karena papa jarang sekali pulang, ia selalu sibuk dengan clientnya diluar kota, dan adikku Lisa dia masih kelas 2 SD tiap hari Lisa selalu diantar mama karena sekolahnya lumayan jauh dari rumah, mamaku selalu punya waktu untuk lisa karena beliau seorang ibu rumah tangga.

“tumben mas nino baru pulang?” “iya bi, tadi abis kumpul dulu sama teman teman Nino,” jawabku. “oh, sudah makan? bibi masak sayur capcai dan ayam goreng kesukaan Mas Nino.” “maaf bi, Nino masih kenyang tadi habis makan bakso di depan sekolah sama teman-teman” jelasku. “oh, yasudah kalo lapar lagi tinggal ambil saja didapur ya mas…” Bi Imah memaklumi. “iya bi…” sahutku yang hendak pergi ke kamar. “oh iya mama dan Lisa kemana ya bi?” tanyaku. “sehabis jemput Lisa dari sekolah mama langsung mengajak Lisa ke mall, katanya lisa minta dibelikan sesuatu” Bi Imah menjelaskan. “oh, yasudah kalo gitu Nino ke kamar dulu ya bi…” “iya mas…”jawab Bibi. Aku terdiam sesaat kemudian membantingkan tubuhku ke atas kasur, dan tiba-tiba fikiranku teralihkan oleh mata gadis itu, Rhaina yang baru kukenal sejak 6 jam yang lalu itu kini membuatku seolah tak pernah bisa untuk tidak memikirkannya, apakah aku terhipnotis olehnya? Ataukah cinta yang telah menghipnotisku?

Aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya, itu karena aku ingin melihat Rhaina. Aku menunggu didekat sekolahnya dan sampai bel berbunyi ia sama sekali belum terlihat, lalu aku memutuskan untuk pergi dan masuk kelas, kelas XI IPA 2  kelasku berada di lantai dua dekat tangga sekolah. “tumben no jam segini baru datang?” Tanya Gita. “emm..umm anu Git, aku telat bangun” alasanku. “bohong!  Tadi aku liat kamu menuju sekolah sebelah, dan sepperti sedang menunggu seseorang…” selidiknya. “hehehe… ketahuan deh. Sebenarnya aku lagi nunggu Rhaina temanmu itu.” Jelasku sambil berbisik. “hah?! Jangan jangn?! Hmm…, kamu suka ya sama dia…? Hayoo ngaku aja deh!”  “ssst, pelan pelan dong ngomongnya ntar yang lain denger loh!” bisikku. “ups, maaf… hehehe,” “iya enggak papa ko, oh iya Git aku boleh minta tolong enggak?” pintaku setengah memohon. “emm, boleh pasti mau minta tolong mencomblangkan kamu sama Rhaina kan? Hehehe…” tebak gita sembari menggodaku. “tidak usah sampai dicomblangi Git, aku cuma mau kamu cari tau tentang dia aja.”tegasku dengan percaya diri. “oh, oke deh…, berani bayar berapa nih?” “tenang aku traktir apapun yang kamu mau…” “hahaha, bercanda no!” tegasnya sambil tersenyum. Gita belum lama mengenal Rhaina karena gita mulai les bimbel bareng Rhaina semenjak kelas XI ini. Jam pelajaran pertama dimulai, kami segera mengakhiri percakapan dan segera duduk di bangku masing-masing, kebetulan aku duduk satu meja dengan Gita, sebelum aku dekat dengan yang lainnya Gita lah sahabat pertamaku, kami sudah satu kelas sejak kelas X sedangkan Doni dan Heri baru kukenal semenjak di kelas XI ini. Gita lumayan cerdas kami saling membantu kalau menyangkut soal pelajaran, walaupun aku dekat dengannya dan duduk satu meja aku hanya menganggap ia hanya sebagai sahabat tidak lebih. 

Selang beberapa hari Gita berhasil mendapatkan informasi tentang Rhaina, aku pun mengikuti saran dari Gita. Bel sekolah berbunyi tanda waktu sekolah telah usai, langit terlihat mendung setelah itu turun hujan aku putuskan untuk berteduh di pinggir jalan di sebuah halte yang belum jauh dari sekolah. “hai Nino…!” seseorang memanggilku seraya menepuk pundakku dari belakang, aku pun tersentak kaget ternyata gadis itu. “ha…hai juga, kamu sedang apa?” jawabku gugup sekaligus bertanya. “aku sedang menunggu bus, sudah setengah jam belum ada yang lewat…” keluhnya. “oh, boleh kutemani? Aku juga lagi nunggu hujan reda.” Tanyaku sembari melontarkan alasan “umm.. boleh saja asal kamunya enggak keberatan, hehe..” jawabnya lembut. Akhirnya kami berdua pun mengobrol saling menceritakan dirinya masing masing, dan ternyata Rhaina sungguh perempuan yang menarik banyak kisah hidupnya yang ia ceritakan padaku padahal kami baru saja bertemu dan untuk pertama kalinya aku bisa ngobrol dengannya berdua saja. Berapa menit kemudian bus yang hendak ditumpangi Rhaina tiba dan hujan pun berhenti, Rhaina mengajakku ikut dengannya pulang dan aku pun menerima tawarannya itu. Perjalanan lumayan jauh, satu jam setengah kami tiba dirumah, Rhaina mengenalkanku pada orang tua dan saudaranya. Rhaina hanya tinggal bertiga dirumah ini bersama ayah dan adik laki lakinya Reza, ibunya sudah lama meninggal sejak melahirkan Reza, tapi aku salut dengan Rhaina, ia tetap semangat dan selalu tersenyum walau ia tidak lagi merasakan kasih saying seorang ibu, terlihat dari sorot matanya yang seolah tidak pernah memiliki masalah apapun.

Semakin hari kami semakin dekat, aku sering mengantarnya pulang, sesekali aku mengajaknya pergi keluar, karena Rhaina suka sekali dengan novel dan buku-buku pengetahuan umum lainnya, aku sering mengajaknya ke toko buku atau ke perpustakaan umum untuk sekedar membaca, hari-hari kami lalui bersama tetapi tetap saja setatus kami masih sekedar teman walaupun Rhaina sering memberi perhatian lebih padaku, perhatian yang tidak sewajarnya sebagai seorang teman. Akhirnya aku putuskan untuk menyatakan perasaanku padanya besok tepat hari minggu sore, dan aku menunggunya di perpustakaan umum tempat kami biasa menghabiskan waktu berdua. Aku menjanjikan untuk bertemu dengannya jam 4 sore didepan perpustakaan umum. Aku tidak sabar menanti hari esok hatiku berdebar-debar bercampur perasaan senang, inikah perasaan seseorang apabila sedang jatuh cinta?

Tibalah saatnya untuk segera bertemu dengannya, aku hendak bersiap-siap dan tampil serapih mungkin agar terlihat tampan dihadapannya, aku memutuskan pergi menggunakan motor untuk mengantisipasi kemacetan yang mungkin saja terjadi. Setibanya disana aku belum melihat sosok gadis yang kudambakan itu, sepertinya ia belum tiba aku putuskan untuk menunggunya di sebuah cafĂ© yang bersebelahan dengan perpustakaan, waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit dan Rhaina belum juga dating, sudah satu jam aku menunggu. Aku coba menghubungi dia, tetap tidak ada jawaban ada apa sebenarnya? Terbersik di fikiranku “apa mungkin dia melupakan janjinya, dan pergi dengan orang lain” tapi aku kenal dia, dia bukan orang yang dengan mudahnya melupakan janji. Tiba tiba saja muncul perasaan tidak karuan, batinku menjadi resah. Triit…..triit…..triit…… terdengar suara dari phonselku bordering, ternyata Gita yang yang menelfonku. “halo no, kamu bisa datang kerumahku sekarang?” pintanya dengan suara yang terdengar panik. “ada apa Git?” tanyaku. “ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu…” “apa itu Git?” selidikku penasaran. “soal Rhaina no!” “ada apa dengan dia?” tanyaku panik. “pokoknya cepat kamu kerumahku, nanti akanku ceritakan” jelasnya. “baiklah, aku segera kesana.” Karena khwatir aku bergegas pergi ke rumah Gita. Gita menceritakan semuanya padaku, aku sempat shok mendengarnya. Rhaina seorang gadis yang kucintai telah tiada, bus yang ia tumpangi mengalami kecelakaan hebat dengan sebuah truk tangki yang melaju kencang dari arah balakang, bus yang ditumpangi Rhaina tertabrak oleh truk itu hingga akhirnya bus tersebut terbakar dan meledak. Kecelakaan itu terjadi pada hari sabtu dini hari saat Rhaina hendak pulang ke rumah, ia pulang malam karena tugas sekolah yang menumpuk, dan pada hari itu pula aku bertemu dengannya untuk membicarakan soal pertemuan kami di perpustakaan umum, kini ku sadar kemarin adalah pertemuan terakhirku dengannya. Jenazah Rhaina dimakamkan tadi siang, dan aku sungguh terlambat baru mengetahui berita ini. Kini ku hanya bisa mengenang dirinya sebagai seorang gadis yang memiliki sepasang mata indah terpancar, walau ku tak sempat memilikimu tapi dihati ini kan selalu tersimpan cinta untukmu.